advertise with ongsono.com
 

Cinta Sang Naga - 7

Posted on Monday, 20 October 2014


Cerita Remaja | Cinta Sang Naga | by V. Lestari | Cinta Sang Naga | Cersil Sakti | Cinta Sang Naga pdf

Fear Street - The Dare - Tantangan Dibakar Malu Dan Rindu - Marga.T I For You - Orizuka Summer Breeze - Cinta Nggak Pernah Salah - Orizuka The Truth about Forever - Kebencian Membuatmu Kesepian - Orizuka

rjadi guncangan seperti kejadian belakangan ini tiba-tiba semuanya jadi kelihatan lain. Bahkan suaminya juga. Tapi ia tidak bisa memahami bahwa kemungkinan penyebabnya adalah dirinya sendiri. Tak pernah sadar bahwa ia sudah terlalu asyik dengan diri sendiri. Ia menganggap para anggota keluarganya berusaha menutup diri masing-masing dari jangkauannya. Hal itu tentu tak boleh dibiarkan. Apalagi ketiga putrinya itu merupakan mutiara keluarga, pada siapa reputasi mereka dipertaruhkan. Tak boleh ada yang salah melangkah. Salah berarti fatal, walaupun salah atau benar itu berdasarkan perhitungannya sendiri.

Sebelum menjawab pertanyaan Yeni, Lili melirik Irma sebentar. Rona merah di pipi Irma sudah lenyap. Lalu Lili tersenyum. Ia sengaja bicara berlambat-lambat. "Gimana aku bisa bilang setuju kalau aku nggak tahu apa-apa tentang Irma dan Henson? Emangnya mereka berdua itu betul-betul pacaran?" tanyanya dengan nada yang sangat ingin tahu.

Diam-diam Irma menarik napas lega. Ia tahu, dirinya cuma dijadikan olok-olok semata. Mereka sama sekali tidak tahu jelas perihal hubungannya dengan Henson. Ia bisa bersikap lebih tenang. Dan juga berani. Kepalanya ditegakkan. Lalu ia menentang mata ibunya. Keberaniannya semakin membesar bila ia teringat dan membayangkan hubungan ibunya dengan Peter. Keberanian yang didorong oleh kebencian.

Irma tersenyum. "Ah, ribut amat sih," katanya, seolah menganggap percakapan itu sebagai kebodohan.

Tapi Yeni tidak mempedulikan sikap Irma. ia jadi penasaran sendiri. "Apa Mama dan Ci Lili mau tahu? Tanya dong si Irma sendiri. Kepingin tahu apa jawabnya. Kalau nggak kenapa-napa kok dia jadi merah tadi. Oh ya, aku juga suka melihat mereka berdua saling pandang. Saling tersenyum."

"Cuma itu saja?" tanya Lili.

"Ya. Apakah ada yang lainnya?" tantang Irma. Ia bertekad tidak akan membiarkan wajahnya memerah lagi. Dan itu hanya bisa terjadi kalau ia gugup atau merasa bersalah. Padahal untuk perbuatan itu ia toh tidak perlu merasa bersalah.

"Lho, yang paling tahu kan cuma Irma. Tanya dong sama dirimu sendiri, Ir. Tanyalah dia, Ma," desak Yeni.

Irma jadi berang. "Kenapa sih kau ini, Ci Yen? Tiba-tiba mendesakku kayak gitu? Emangnya aku terdakwa?" ia bertanya sengit.

"Bukan begitu, Ir," suara Yeni melembut. Ngeri juga ia melihat kemarahan Irma. Sering kali anak ini tidak boleh disepelekan. Papa menyayanginya. Sering menyebutnya pintar. Huh. Tapi sekarang ini kesempatan bagus untuk membalas. Paling tidak memberinya pelajaran. Mentang-mentang disayang.

"Lantas apa?" tantang Irma.

"Kau ini masih kecil. Masih ingusan dalam soal cinta. Jangan coba-coba pacaran dengan sembarang lelaki. Apalagi lelaki yang asal-usulnya begitu berbeda- Oh, memang zaman sekarang yang namanya pembauran itu sudah bukan barang baru lagi. Kuno kalau masih diributkan. Tapi si Henson itu sebenarnya siapa sih? Orang tuanya kayak apa? Dan dia pelayan, lagi!"

Sekarang wajah Irma memerah lagi, tapi kali ini karena marah. Emosinya selalu tergelitik bila merasa Henson dihina.

"Umurmu kan cuma beda dua tahun daripada-ku. Mentang-mentang sudah punya pacar. Tapi si Anton itu juga siapa sih? Orang tuanya kayak apa? Nenek moyangnya kayak apa? Jangan-jangan perampok, pembajak, penyelundup, atau... atau..." Irma kehabisan imajinasi.

Tapi saat itu pun Yeni sudah memekik sambil melompat, siap mencakar Irma. Namun Lili segera menghadang. "Sudah, sudah. Apa-apaan sih? Kan tadinya kita cuma bercanda, kok jadi berantem sungguhan. Kau duluan sih. Yen. Kau ngejek Irma terus."

Yeni terduduk dengan wajah mau menangis. "Habis dia kurang ajar. Keterlaluan menghina orang. Nenek moyang dibawa-bawa. Coba kalau si Anton tahu," katanya dengan suara serak.

"Kau duluan yang keterlaluan," Irma tak mau kalah.

"Tapi aku bermaksud baik. Kau kan adikku. Apa nggak boleh aku menasihati?"

"Bukan nggak boleh, tapi nggak perlu!" kata Irma ketus.

Yeni membelalakkan matanya yang berair. Dalam pertengkaran mulut dengan Irma hampir selalu ia kalah. Sungguh menjengkelkan. Tapi bukan melulu karena perasaan kalah itu, melainkan sebab lain. Ia sudah gagal membujuk Irma agar mau menerima cinta Herman. Padahal Herman adalah adik Anton, pacarnya sendiri. Bukan cuma Herman yang minta tolong padanya, tapi juga Anton. Dan ia ingin sekali menyenangkan hati Anton.

Melihat wajah Irma menampakkan kemenangan, Yeni semakin jengkel. Lalu ia menoleh kepada ibunya. Ia pun heran karena cukup lama ibunya bungkam tanpa menyela pertengkarannya dengan Irma. Ia melihat dahi ibunya berkerut tanda sedang berpikir. Dan pandang ibunya sebentar-sebentar tertuju kepada Irma. Buru-buru Yeni mengatakan, "Kok Mama diam saja? Apakah Mama tidak kepingin tahu? Wah, jangan-jangan Mama senang juga sama si Henson. Pura-pura aja..."

"Diam!" bentak Nyonya Linda.

Yeni terkejut. Lalu cemberut merajuk. Kok malah dia yang dibentak. Senyum di wajah Lili dan Irma menambah gemas.

Tapi Nyonya Linda tidak memandang kepada Yeni. Ia menatap Irma.

"Jawab pertanyaan Mama, Irma! Apakah kau punya hubungan dengan Henson?"

Irma tertegun sebentar. Ia kaget. Demikian pula Lili. Tapi Yeni ganti tersenyum. Rasakan.

"Tentu saja punya, Ma," jawab Irma tenang. "Bagaimana tidak punya hubungan, kan Henson kerja di sini? Lho saya kan sesekali perlu bicara dengan dia. Perlu tanya ini itu. Mentang-mentang saya belum punya pacar lantas dicurigai begitu saya tersenyum dan memandang pada seseorang. Emangnya ini zaman kuno? Coba, kenapa saya selalu menolak anak-anak muda itu? Mereka nyebelin semua. Bau parfumnya aja dari jauh sudah bikin enek. Apalagi si Herman. Dia paling nyebelin dari semua!" Irma bicara cepat, khawatir dijegal.

Yeni menggertakkan gigi. Ia tahu, Irma sengaja menyinggungnya.

"Bukan hubungan macam itu yang kutanyakan. Pura-pura aja kau!" bentak nyonya Linda.

"Hubungan apa sih, Ma?"

"Hubungan cinta tentu saja! Apa lagi sih?" sela Yeni tak sabar.

Irma memandang ibunya. Nyonya Linda mengangguk. "Ya. Jawab saja!" katanya dingin.

Irma melompat dari duduknya, lalu mengentakkan kaki. "Saya tidak senang diperlakukan seperti ini!" serunya.

"'Senang atau tidak senang, apa salahnya kau menjawab?" desak Nyonya Linda. Secara tak sadar ia tengah melampiaskan rasa tidak sukanya kepada putri bungsunya ini. Suatu perasaan yang timbul setelah menganggap bahwa Irma terlampau akrab dengan ayahnya. Suaminya lebih me-nyayangi Irma daripada dirinya. Dan itu sudah lama. Mungkin sejak Irma lahir. Sampai timbul perasaan, bahwa Irma datang untuk menyainginya. Tapi, bagaimanapun dingin perlakuannya kepada Irma, anak itu tidak kekurangan kehangatan. Dia memperolehnya dari sang ayah.

Mereka saling tatap. Tubuh Irma gemetar. Dulu ia tak pernah berani menentang, apalagi melawan. Memang dulu tak pernah ada konflik. Tapi itu pun karena ia selalu menghindar. Nalurinya cukup peka untuk menyadari perasaan negatif ibunya. Sekarang, ia tak bisa menghindar. Haruskah ia melawan? Toh ia tidak ingin menyerah. Ia tidak ingin menyangkal, karena itu merupakan sikap pengecut. Tapi kalau ia mengaku maka itu berarti ia telah mengkhianati Henson. Ia tak ingin Henson dipecat. Setidaknya jangan sekarang kalaupun hal itu harus terjadi.

"Memang tidak salah, Ma," sahut Irma pelan, sambil memutar otaknya. "Tapi caranya kok memaksa seperti ini? Saya didesak dan dibentak-bentak tanpa ujung pangkal. Persoalan kecoa kok jadi beralih kepada saya? Ingatlah. Yang kita bicarakan tadi adalah soal kecoa di dalam capcay, bukan soal siapa pacaran dengan siapa."

"Jawablah dulu."

"Saya heran. Saya yang tidak merasa berbuat salah apa-apa diperlakukan seolah orang punya dosa yang disuruh mengaku. Tapi orang lain yang betul-betul berdosa tidak diapa-apakan. Dia bisa tenang-tenang menyimpan salahnya."

"Orang lain siapa?" tanya Nyonya Linda heran. Mau tak mau ia jadi ingin tahu.

Irma memandang lekat pada ibunya sebelum menjawab.

"Oom Peter, Ma!" katanya, tak begitu keras tapi tegas.

Serentak wajah Nyonya Linda berubah. Ekspresi garangnya lenyap. Di matanya ada kekagetan yang sangat. Tapi cuma sebentar, karena ia berusaha keras untuk memulihkan dirinya lagi. Toh Irma sempat melihat, karena ia cermat memperhatikan. Memang hanya ia yang melihat. Tapi ia merasa cukup. Terlalu banyak bicara bisa salah. Buru-buru ia membalikkan tubuhnya, lalu bergegas pergi.

"Hei, Irma! Emangnya Oom Peter kenapa?" seru Lili.

Tapi Irma berpura-pura tidak mendengar. Dengan kakinya yang panjang ia melangkah cepat.

Dalam sekejap ia sudah lenyap dari pandangan ketiga orang di belakangnya.

Lili dan Yeni berpaling kepada ibu mereka.

"Apa sih yang dimaksud Irma, Ma?" tanya kedua gadis itu hampir berbarengan.

nyonya Linda mengangkat bahunya. "Sinting!" dengusnya.

Lili dan Yeni saling berpandangan. Mereka tidak berani bertanya-tanya. Ekspresi wajah sang ibu sungguh tidak sedap dilihat.

"Eh, si Irma sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu, Ci!" Yeni mengingatkan kakaknya. "Dia pergi menghindar. Pinter dia. Ya, kenapa dia tidak mau menjawab?"

"Sudah, diam!" bentak Nyonya Linda.

Yeni mau membuka mulutnya, tapi Lili buru-buru menarik tangannya. Mereka berdiri pelan-pelan setelah diam beberapa saat lamanya, lalu cepat-cepat berlalu dari situ. Tak ubah apa yang dilakukan Irma barusan.

"Sinting!" dengus Nyonya Linda.

***

Sementara keempat perempuan anggota keluarganya ribut berceloteh itulah Tuan Liong mendapat ide baru. Ia setengah berlari menuju ke luar rumah, berharap masih menemukan Henson.

Untung Henson masih di halaman sedang mengutik-ngutik motornya.

"Belum pergi, Son?"

"Belum, Tuan. Mau ganti busi dulu."

"Untung kau belum pergi." Henson menatap.

"Oh, ada pesan lain, Tuan?"

"Ya. Ada yang mau kusampaikan. Tadi ng gak terpikir."

Henson segera menunda pekerjaannya. Lalu berdiri dengan sikap hormat, seperti biasanya kalau sedang diajak bicara.

"Teruskan saja. Nggak usah ditunda. Kau jadi bisa cepat pergi," cegah Tuan Liong. "Kita bicara sambil kau meneruskan kerjamu."

Henson menurut.

"Begini, Son. Bukankah kau sebentar mau menemui redaktur koran tadi? Nah, kalau nanti ditanya apa kedudukanmu di sini, kau mau bilang apa?

"Gampang, Tuan. Saya utusan dari Restoran SANG NAGA."

Tuan Liong menggeleng-gelengkan kepala. "Ah, tidak cocok itu. Kau harus memberi keyakinan kuat pada mereka dengan penampilan yang berwibawa. Sebagai utusan bisa saja pesuruh, atau pelayan, bukan?"

"Lantas bagaimana, Tuan?"

"Katakanlah, bahwa kau manajer SANG NAGA."

Henson menghentikan gerak tangannya. Ia tertegun sebentar. Kemudian tersenyum. "Baik. Akan saya katakan begitu," sahutnya tanpa perasaan apa-apa. Sebagai karyawan tentu saja dia tinggal melaksanakan suruhan. Kalau disuruh

mengaku direktur pun boleh saja. Toh disuruhnya begitu.

"Tapi itu bukan main-main. Son. Sungguhan. kok. Mulai hari ini, eh. saat ini, kau kuangkat jadi manajer restoranku. Tapi sudah tentu dasi kupu-kupu itu harus kaubuang. Masa manajer berseragam pelayan? Soal gaji kita bicarakan nanti sesudah kau pulang."

Henson berdiri. Wajahnya cerah. "Terima kasih, Tuan," katanya dengan penuh perasaan. Begitu saja ia teringat pada Irma. Kau punya bakat jadi manajer, begitu kata Irma. Ternyata sekarang jadi sungguhan.

"Apakah Nyonya sudah tahu, Tuan?"

"Belum. Belum ada yang tahu. Yang penting antara kita harus ada kerja sama yang baik. Kau sudah tahu banyak tentang seluk beluk restoran in i. Tidak susah lagi bagimu mengambil oper sebagian pe kerjaanku."

"Ya, Tuan. Terima kasih," kata Henson dengan kegembiraan yang terasa aneh. Barusan saja ia dimaki-maki, dikatai goblok segala. Tahu-tahu si goblok ini malah naik pangkat. Tapi ini bukan mimpi. Ini musibah yang membawa berkah.

Sepanjang jalan hati Henson bernyanyi-nyanyi. Ya, Irma akan gembira sekali. Apakah Irma yang mempromosikan dirinya kepada Tuan Liong? Pasti tidak. Irma sudah berjanji tidak akan melakukan hal-hal seperti itu. Pendeknya mereka berdua sudah sama-sama berjanji tidak akan melakukan hal-hal yang akan menarik prasangka buruk orang.

Ia bangga akan Irma. Gadis semuda itu juga punya bakat dalam menilai orang. Ya, tentu saja ia bangga karena mendapat penilaian tinggi dari Irma. Justru hal itulah yang membuat Irma tertarik padanya. Tidak susah meyakini hal itu.

Kebang
Read more about Cinta Sang Naga - 7



Related read :

Cinta Sang Naga - 30
Cerita Remaja | Cinta Sang Naga | by V. Lestari | Cinta Sang Naga | Cersil Sakti | Cinta Sang Naga pdf Hilangnya Suzumiya Haruhi - Tanigawa Nagaru Ketika Flamboyan Berbunga - Maria A Sardjono Fade
Sang Pengintai - 10
Cerita Misteri | Sang Pengintai | Serial Kelompok 2 & 1 | Sang Pengintai | Cersil Sakti | Sang Pengintai pdf 5 cm - Donny Dhirgantoro Dijemput Malaikat - Palris Jaya Filosofi Kopi - Dewi Dee Lestari
Sang Pengintai - 8
Cerita Misteri | Sang Pengintai | Serial Kelompok 2 & 1 | Sang Pengintai | Cersil Sakti | Sang Pengintai pdf 5 cm - Donny Dhirgantoro Dijemput Malaikat - Palris Jaya Filosofi Kopi - Dewi Dee Lestari
Sang Pengintai - 5
Cerita Misteri | Sang Pengintai | Serial Kelompok 2 & 1 | Sang Pengintai | Cersil Sakti | Sang Pengintai pdf Gaung Keheningan - Eloquent Silence - Sandra Brown Gue Anak SMA - Benny Rhamdany Jingga